KETIKKABAR.com – Sebuah peristiwa menyedihkan terjadi di atas ketinggian ribuan meter. Seorang ibu melahirkan bayi laki-laki prematur di dalam penerbangan Jeju Air dari Clark, Filipina menuju Incheon, Korea Selatan, Senin (2/6) pagi.
Namun, harapan akan keajaiban itu pupus saat bayi dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah dilahirkan.
Mengutip laporan Maeil Business Paper, Kantor Polisi Bandara Internasional Incheon menerima laporan pada pukul 06.44 pagi bahwa bayi tersebut tidak bernapas setelah proses persalinan darurat di dalam pesawat.
Bayi lahir dalam kondisi henti jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit oleh paramedis. Sayangnya, nyawanya tidak terselamatkan.
Lahir di Usia Kehamilan 23–25 Minggu
Pihak kepolisian menyatakan bahwa sang ibu kemungkinan besar melahirkan dalam usia kehamilan 23 hingga 25 minggu, jauh dari batas aman kelahiran.
Saat ini, penyelidikan tengah dilakukan untuk memastikan penyebab kematian bayi yang lahir dalam situasi darurat tersebut.
Baca Juga: Tragedi Bantuan Gaza: 112 Tewas Ditembak dan Tertabrak Saat Berebut Makanan, Israel Dikecam Dunia
Pesawat mendarat di Bandara Internasional Incheon pukul 06.21 waktu setempat, dan tim medis sudah siaga tak lama setelah laporan kondisi bayi diterima.
Ibu Tidak Menginformasikan Kehamilan ke Maskapai
Sang ibu diketahui berdomisili di Saipan dan tengah melakukan perjalanan keluarga ke Filipina bersama suami, anak perempuan, serta ibunya.
Mereka kemudian menumpang penerbangan Jeju Air dalam perjalanan pulang via Incheon.
Menurut perwakilan Jeju Air, tidak ada informasi jelas dari sang ibu soal status kehamilannya kepada pihak maskapai.
Padahal, prosedur keselamatan menyarankan agar penumpang hamil, terutama yang mendekati trimester ketiga, melapor atau menunjukkan surat medis.
“Sang ibu tidak memberi tahu kami soal kehamilannya, sehingga kami tidak dapat memberikan persiapan khusus untuk situasi darurat seperti ini,” ujar perwakilan resmi Jeju Air.[]




















