KETIKKABAR.com – Sistem pertahanan udara canggih Iron Dome milik Israel diduga dilumpuhkan melalui serangan siber, di tengah konflik panas dengan Iran. Beberapa rudal pencegat justru dilaporkan berbalik arah dan menghantam wilayah Israel sendiri, dalam insiden yang disebut sebagai “kegagalan kritis”.
Kantor berita Iran IRNA menyebutkan bahwa video viral dari wilayah Israel menunjukkan rudal pencegat meleset dari sasaran, bahkan menimbulkan ledakan di dalam negeri sendiri.
“Pengamat mengeklaim sistem Iron Dome telah disusupi, diduga diretas hingga beberapa rudal Israel dialihkan dan menghantam target Israel,” tulis IRNA.
Baca juga: Pakistan Pasang Badan: “Kami Akan Berdiri Bersama Iran!”
Sementara itu, Direktorat Siber Nasional Israel mengakui telah terjadi serangan siber besar-besaran. Warga sipil dilaporkan menerima peringatan palsu untuk tidak masuk ke tempat perlindungan bom, memperparah kekacauan di tengah konflik yang telah memasuki hari kelima.
Lebih dari 200 orang tewas di pihak Iran, sementara korban jiwa di Israel telah melebihi 20 orang. Di tengah eskalasi, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan keras:
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Semua orang harus segera mengungsi dari Teheran!”
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump kembali lebih awal dari KTT G7 di Kanada karena meningkatnya krisis. Juru bicara Karoline Leavitt menyebutkan situasi di Timur Tengah kini menjadi prioritas darurat Gedung Putih.
Baca juga: Korut Siap Kirim Dukungan Militer ke Iran: “Israel Akan Dibayar Mahal”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa operasi militer Israel telah melumpuhkan program nuklir Iran, sembari menyebut “rezim Iran sangat lemah”. Ia mengaku berkoordinasi langsung dengan Trump setiap hari.
Namun, Iran membantah keras tuduhan pengembangan senjata nuklir, menegaskan program mereka murni damai. Meski begitu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan bahwa Iran memiliki cukup uranium untuk membuat bom nuklir jika menghendaki.
Dalam perkembangan terbaru, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada 330.000 warga di pusat kota Teheran, termasuk kawasan yang menjadi markas polisi, kantor TV nasional, dan tiga rumah sakit besar, salah satunya milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dengan populasi sekitar 9,5 juta jiwa, ibu kota Iran kini berada di ambang krisis kemanusiaan yang lebih besar jika konflik tidak segera dihentikan.[]




















