KETIKKABAR.com – Harapan ratusan warga untuk membawa pulang tepung berubah menjadi horor berdarah. Sedikitnya 80 warga sipil Gaza tewas setelah pasukan Israel menembaki lokasi distribusi bantuan kemanusiaan, Selasa (24/6), di wilayah Nuseirat dan Deir el-Balah.
Mereka yang gugur bukan pejuang, melainkan orang-orang kelaparan yang berdiri di antrean, menunggu bantuan logistik berupa tepung dan bahan pokok lainnya.
“Kami hanya ingin makan, bukan mati,” ungkap Ahmed, seorang penyintas yang matanya masih merah menahan trauma.
Middle East Eye melaporkan, beberapa korban ditemukan masih menggenggam kantong tepung di tangan. Di sisi lain, para relawan menyaksikan tubuh anak-anak berserakan di sekitar truk bantuan pemandangan yang kini menjadi simbol tragedi kemanusiaan terbaru di Gaza.
Baca juga: Trump Serang Nuklir Iran, Khamenei Balas Dendam: Hukuman Belum Selesai!
Kantor HAM PBB menyebut penggunaan bantuan sebagai alat militer adalah tindakan tercela, bahkan berpotensi sebagai kejahatan perang.
“Ratusan warga sipil telah tewas saat mengakses bantuan sejak Mei,” ungkap juru bicara PBB.
UNICEF dan WHO pun menyerukan agar lokasi distribusi bantuan dijadikan zona aman permanen. WHO memperingatkan, “Perdamaian adalah obat terbaik.”
Amnesty International menyebut blokade dan serangan Israel sebagai genosida yang disengaja, menyatakan bahwa: “Gaza telah diubah menjadi neraka kematian oleh militerisasi bantuan.”
Februari 2024: >100 tewas di Jalan al‑Rashid.
Mei 2025: 10–50 tewas di Rafah.
2 Juni 2025: 3–31 tewas dekat pusat bantuan Rafah.
24 Juni 2025: 80 tewas di Nuseirat dan Deir el-Balah.
Menurut data PBB dan Reuters, sejak Mei 2025 saja, lebih dari 410 orang tewas karena “militarisasi bantuan pangan.”
Baca juga: Putin Turun Tangan! Rusia Kutuk Serangan AS, Medvedev Ancam Iran Bisa Dapat Nuklir
WHO mencatat lebih dari 5.000 anak dirawat karena malnutrisi akut sepanjang Mei. Kini, sekitar 500.000 warga Gaza berada di ambang kelaparan total, sementara pengepungan dan serangan terus berlanjut.
Konflik Israel-Hamas telah berlangsung 624 hari. Hingga 24 Juni 2025, 56.077 warga Palestina dilaporkan tewas, dan 131.848 luka-luka, menurut data Middle East Monitor dan otoritas Gaza.
Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, tewas akibat serangan udara di wilayah padat penduduk dan area distribusi bantuan.
PBB menyebut krisis ini sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk abad ini, sementara gencatan senjata permanen masih menjadi harapan yang belum nyata.[]




















