KETIKKABAR.com – Mantan Presiden Soeharto resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025. Pemberian gelar ini langsung menuai kontroversi, memicu perdebatan di kalangan politisi, aktivis, dan akademisi. Soeharto, yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, telah lama menjadi figur yang divisif. Sementara sebagian pihak menganggapnya sebagai tokoh yang berjasa bagi pembangunan Indonesia, banyak juga yang menilai kepemimpinannya penuh dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan korupsi yang merajalela. Kontroversi semakin memanas setelah beredarnya pesan yang dikirim oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, di grup WhatsApp internal partainya. Dalam pesan tersebut, Hasto menekankan pentingnya upaya untuk menolak pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dari pihak luar PDIP. “Tugas kita mendorong pihak-pihak eksternal partai untuk menolak pemberian gelar tersebut. Jadi terus lakukan penggalangan opini,” demikian isi pesan Hasto. Dia juga menyebut bahwa sikap tersebut merupakan hasil diskusi internal yang dipimpin oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam rapat DPP minggu sebelumnya, serta berdasarkan arahan dari Megawati yang disampaikan di Blitar. Protes terhadap pemberian gelar ini datang dari berbagai kalangan, termasuk aktivis hak asasi manusia, yang menilai bahwa Soeharto seharusnya tidak dianugerahi gelar tersebut mengingat pelanggaran HAM yang terjadi selama masa pemerintahannya, seperti peristiwa Tragedi 1965 dan operasi militer yang menewaskan ribuan orang. Namun, di sisi lain, ada pihak yang memandang pemberian gelar tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi Soeharto dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi Indonesia di masa lalu, meskipun banyak kontroversi terkait cara-cara pemerintahannya. Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, yang telah meninggal pada 2008, menambah panjang daftar sosok yang diperdebatkan dalam sejarah Indonesia, memperlihatkan bahwa sejarah bangsa ini masih sangat dipengaruhi oleh pandangan politik dan interpretasi yang berbeda-beda terhadap tokoh-tokoh besar masa lalu. [] Marsinah Ditetapkan Pahlawan Nasional: Aktivis Buruh yang Berani Melawan Penindasan


















