Internasional

INSS: Pertemuan El-Sisi–Erdogan di Kairo Jadi Titik Balik Hubungan Mesir–Turki

KETIKKABAR.com – Sebuah laporan Institut Studi Keamanan Nasional Israel (Institute for National Security Studies/INSS) menilai pertemuan puncak Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kairo pada awal Februari 2026 sebagai titik balik penting dalam proses pemulihan hubungan kedua negara.

Hubungan Mesir dan Turki sebelumnya sempat membeku selama bertahun-tahun akibat ketegangan politik.

Menurut laporan tersebut, pertemuan itu memiliki makna simbolik yang kuat dan mencerminkan perubahan besar dalam hubungan bilateral.

El-Sisi menyambut Erdogan langsung di bandara bersama istrinya dan menyebut Presiden Turki sebagai “tamu terhormat Mesir”.

Erdogan, sebaliknya, memberikan hadiah berupa sebuah mobil listrik buatan Turki. INSS menilai isyarat tersebut tidak sekadar bersifat protokoler, melainkan menunjukkan kehendak politik bersama untuk membawa hubungan ke tingkat kemitraan yang lebih mendalam.

Laporan INSS menyebut pendekatan baru Mesir–Turki didasarkan pada sejumlah kepentingan bersama.

Di antaranya rencana peningkatan nilai perdagangan bilateral dari 9 miliar dolar AS menjadi 15 miliar dolar AS, ekspor gas alam cair Mesir ke Turki, serta perluasan kerja sama militer.

Kerja sama itu mencakup latihan angkatan laut bersama, kesepakatan persenjataan, termasuk sistem pertahanan udara buatan Turki, serta rencana pendirian pabrik Turki untuk memproduksi amunisi artileri di Mesir.

Langkah-langkah tersebut dinilai bertujuan mengurangi ketergantungan pada persenjataan Barat dan memperkuat industri militer bersama, menyusul kerja sama sebelumnya di bidang pesawat nirawak dan sistem tak berawak.

BACA JUGA:
Serangan Udara Militer Nigeria Hantam Pasar di Yobe, 200 Sipil Tewas

Namun, laporan tersebut menilai aspek paling sensitif dari pendekatan ini terletak pada sikap bersama Mesir dan Turki terhadap Israel dan perang di Gaza.

Isu ini disebut kini menjadi elemen sentral dalam hubungan Kairo–Ankara. Pernyataan bersama menjelang pertemuan Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi menunjukkan keselarasan pandangan kedua negara terkait isu-isu regional.

Keselarasan tersebut mencakup tuntutan penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza, kembalinya Otoritas Palestina—“setelah direformasi”—untuk mengelola Gaza, peluncuran proses politik menuju pendirian negara Palestina, pembukaan penyeberangan Rafah dua arah, rekonstruksi Gaza, serta pelestarian peran UNRWA.

Pernyataan itu juga memuat kritik terhadap kebijakan Israel di Suriah dan Lebanon, serta dukungan terhadap sejumlah sikap regional lainnya.

Menurut penyusun laporan, perkembangan ini mencerminkan kecenderungan Mesir dan Turki untuk mengoordinasikan posisi dalam menghadapi Israel di lebih dari satu arena.

Israel, dalam konteks ini, dinilai menjadi semacam “perekat penghubung” antara Kairo dan Ankara karena menyatukan keduanya di sekitar tujuan-tujuan yang dianggap prioritas.

Tujuan tersebut meliputi penguatan gencatan senjata di Gaza, pencegahan meluasnya perang secara regional ke Lebanon atau Iran, pembatasan apa yang mereka sebut sebagai “kecenderungan ekspansionis dan hegemonik” Israel, serta pembangunan bobot Arab–Islam yang dapat menyeimbangi Israel di Washington, khususnya di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

BACA JUGA:
Trump Tolak Cabut Blokade Iran Sebelum Kesepakatan, Ketegangan Selat Hormuz Memuncak

INSS menempatkan dinamika ini dalam konteks yang lebih luas, yakni terbentuknya upaya Arab–Islam sejak pecahnya perang Gaza untuk mengisolasi Israel secara politik.

Upaya tersebut melibatkan, dalam tingkat yang berbeda, negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Indonesia.

Laporan itu menilai perkembangan ini signifikan mengingat Mesir secara historis merupakan bagian dari poros regional “pragmatis” yang sebelumnya mencakup Israel dalam menghadapi Turki.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa berlanjutnya perbedaan pandangan antara Mesir dan Israel mengenai masa depan Gaza dan isu Palestina dapat mendorong Kairo memperdalam kemitraannya dengan Ankara.

Dampaknya, menurut laporan itu, berpotensi memperburuk “perdamaian dingin” Mesir–Israel, meningkatkan retorika yang bermusuhan, serta memperbesar kecurigaan keamanan timbal balik.

Sebaliknya, perbaikan dialog dan upaya membangun kembali kepercayaan antara Kairo dan Tel Aviv dinilai dapat mengurangi karakter anti-Israel dalam kemitraan Mesir–Turki. []

Tepi Barat Memanas: Warga Yahudi Kini Bisa Beli Tanah & Kuasai Tempat Ibadah!

TERKAIT LAINNYA