KETIKKABAR.com – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan secara aktif menggunakan model kecerdasan buatan (AI) Claude dari perusahaan Anthropic dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro bulan lalu.
Laporan ini diungkap oleh Axios dan The Wall Street Journal, yang menyebut teknologi AI itu memainkan peran langsung dalam serangan mematikan tersebut.
Menurut laporan, Claude digunakan selama operasi aktif, bukan hanya pada fase persiapan.
Peran persisnya belum jelas, meskipun militer AS sebelumnya diketahui memanfaatkan model AI untuk menganalisis citra satelit dan intelijen secara real-time.
Kebijakan penggunaan AI dari Anthropic secara eksplisit melarang pemakaian teknologi tersebut untuk “memfasilitasi kekerasan, mengembangkan senjata, atau melakukan pengawasan.”
Perusahaan menolak memberikan komentar spesifik soal apakah Claude atau model AI lainnya digunakan dalam operasi tertentu, termasuk yang bersifat rahasia.
Walau tidak ada warga Amerika yang tewas dalam serangan itu, puluhan tentara dan personel keamanan Venezuela serta Kuba dilaporkan tewas pada 3 Januari selama operasi tersebut.
Claude diakses oleh militer melalui kemitraan dengan Palantir Technologies, yang menyediakan platform rahasia yang dipakai dalam pekerjaan paling sensitif militer AS.
Pengungkapan penggunaan AI di tengah operasi ini terjadi saat Anthropic tengah menekankan komitmennya terhadap “perlindungan AI” dan menentang penggunaan teknologi tanpa batas, termasuk dalam konteks militer.
Perusahaan bahkan dikabarkan sedang dalam negosiasi dengan Pentagon terkait pembatasan penggunaan AI untuk penargetan senjata otonom dan pengawasan domestik.
Namun, perselisihan soal pembatasan ini sempat menghambat kontrak militer senilai hingga USD200 juta.
Situasi ini menegaskan meningkatnya peran kecerdasan buatan dalam operasi militer sensitif dan memicu perdebatan tentang batasan etika serta kebijakan AI dalam konteks konflik bersenjata. []
Data FOI Ungkap Ribuan Warga Inggris Ikut Bertempur di Gaza Bersama IDF










