Internasional

Panas! Rusia Tingkatkan Nuklir di Arctic, Nato Siaga

KETIKKABAR.com – Menteri Pertahanan Norwegia, Tore Sandvik, mengeluarkan peringatan serius mengenai peningkatan kehadiran militer Rusia di Lingkaran Arktik, termasuk penempatan senjata nuklir yang berpotensi menargetkan Amerika Serikat (AS).

Peringatan ini disampaikan Sandvik di tengah memburuknya ketegangan antara Timur dan Barat, yang baru-baru ini diperparah oleh pembatalan pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris, The Daily Telegraph, yang juga dikutip oleh Newsweek, Sandvik secara spesifik menyoroti wilayah Rusia di dalam Lingkaran Arktik, dekat Finlandia.

“Rusia sedang membangun di Semenanjung Kola… tempat salah satu gudang senjata nuklir terbesar di dunia berada,” kata Sandvik pada Minggu (26/10/2025). “Senjata [nuklir] tersebut tidak hanya ditujukan ke Norwegia, tetapi juga ke Inggris dan melintasi kutub menuju Kanada dan AS.”

Menteri Pertahanan Norwegia tersebut menekankan peran vital negaranya dalam aliansi NATO. Menurutnya, Moskow berupaya memperkuat kekuatan nuklirnya tepat di ambang pintu aliansi tersebut.

BACA JUGA:
Trump Tabuh Genderang Perang! Perintah Blokade Selat Hormuz: Hancurkan Siapa Pun yang Melawan!

“Kami adalah mata dan telinga NATO di area ini, dan kami melihat mereka sedang menguji senjata baru, misalnya rudal hipersonik, dan mereka menguji torpedo bertenaga nuklir dan hulu ledak nuklir,” ungkapnya.

Sandvik berpendapat bahwa dalam skenario perang dengan NATO, Rusia kemungkinan akan menargetkan wilayah strategis Bear Gap (yang memisahkan Pulau Svalbard dari Norwegia daratan) serta GIUK Gap (celah antara Inggris, Islandia, dan Greenland).

“Putin perlu membangun apa yang disebut pertahanan Benteng (Bastion defence). Dia perlu mengontrol Bear Gap untuk memastikan bahwa dia dapat menggunakan kapal selamnya dan Armada Utara. Dan dia ingin menolak akses sekutu NATO ke GIUK Gap,” jelas Sandvik.

Hubungan antara Moskow dan negara-negara Barat telah memburuk drastis sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

BACA JUGA:
Tangis Haru Pecah di Al-Aqsa: Shaf Subuh Kembali Rapat Setelah 40 Hari 'Dibungkam' Penutupan

Pekan lalu, ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan pembatalan pertemuan dengan Putin di Budapest.

Pembatalan ini menyusul penolakan pemimpin Rusia terhadap tuntutan gencatan senjata segera dari AS dan Eropa, karena Trump tidak menginginkan “pertemuan yang sia-sia.”

Trump juga memperkenalkan paket sanksi baru yang menargetkan raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil, yang bahkan memancing reaksi keras dari Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang menyebut aksi ini sebagai tindakan perang.

Di tengah situasi geopolitik yang memanas ini, kekerasan di Ukraina terus berlanjut. Serangan drone massal melanda Ukraina pada hari Rabu, menewaskan sedikitnya tujuh orang dan menghantam “kota-kota biasa” serta infrastruktur energi, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. []

Purbaya Ancam Tangkap Pelaku Thrifting yang Tolak Pemberantasan Impor Ilegal

TERKAIT LAINNYA